#3Penguasa: Merindu Hujan (Bagian 2)

“Merindu Hujan Bagian 2″ merupakan cerita kedua grup 12 dari #RantaiCerita #3Penguasa yang diadakan oleh Komunitas Blogger Bogor, tulisan pertama dibuat oleh mbak @IndahJuli di sini, dan yang ketiga ditulis oleh @wkf2010.  Selamat membaca

*****

‘Ayunda’  sebuah suara bariton mengalihkan lamunanku. Aku menoleh, Tegar berada tempat di belakangku, laki-laki yang telah tiga tahun ini menjadi pasangan hidupku.

‘Sudah malam, tidurlah’ tambahnya sambil mengelus pundakku lembut.

 ‘Tunggulah hujan reda sebentar lagi, hum’ aku meraih tangan Tegar, mengajaknya untuk duduk di sebelahku menikmati hujan.

‘Sepertinya, hujan tak akan berhenti malam ini’ katanya menengadah

Hujan mungkin tidak reda malam ini, tapi tak mengapa. Itu artinya bayangan tentangmu pun tak akan lenyap dari benakku. Kalya, pada setiap hujan yang datang ini, aku mengirimkan kerinduan padamu. Pada bibir tipis yang selalu menyunggingkan senyuman, pada pijar mata yang memercikkan kebahagiaan. Rindu yang pelan-pelan kutelisipkan di antara perasaan bersalah pada Tegar, suamiku.

Aku pikir, aku sudah menguburkan dalam-dalam kekaguman dan perasaanku pada makhluk Tuhan bernama wanita. Semenjak kurasakan bahwa ada sesuatu yang berbeda di jantung hati setiap kali memandang seseorang dengan jenis kelamin yang sama denganku. Perasaan yang tidak bisa aku deskripsikan dengan sempurna, tetapi tidak pernah aku rasakan jika berdekatan dengan lawan jenis, setampan apapun mereka.

Aku takut. Takut akan takdir hidupku sendiri. Takut mengkhianati cinta ibu, perempuan yang aku puja sepanjang hayat. Kemudian kau datang, Kalya. Mengobrak-abrikan benteng rasa yang sudah aku bangun sedemikian rupa. Kamu mempesona Kalya, aku mencintaimu.

Masih membekas dalam ingatan, kamu menyeka air hujan yang membasahi wajahku. Sambil sesekali membelai lembut rambutku.

‘Hujan itu indah Ayunda’

‘Indah? Kalau menyebabkan banjir, bukan indah namanya, tapi bencana’ kataku menggerutu.

Kamu tergelak, selalu begitu. Menertawakan setiap kata yang keluar dari mulutku. Andaikata orang lain, mungkin aku akan marah,  tetapi gelak tawamu seperti lantunan musik di telingaku.

‘Hujan tidak pernah menyebabkan bencana, manusia yang melakukannya’

Lalu kamu pun bercerita tentang kecintaanmu pada hujan dan aroma tanah basah. Lambat-laun aku pun turut mencintainya, entah karena hujan memang indah atau karena aku mencintai apapun tentangmu. Sejak itu aku selalu menunggu hujan datang.

‘Sudah reda’ Tegar beranjak dari tempat duduknya, mengaburkan lamunanku sekali lagi.

Ditutupnya daun jendela yang basah oleh sisa air hujan. Menghela lembut kursi roda ke kamar, menggendong dan membaringkan tubuhku di tempat tidur.

Ya, aku tidak bisa berjalan lagi Kalya. Kamu ingat, sore itu ketika aku mengejarmu dengan membabi buta, di hari kamu memutuskan untuk meninggalkanku. Aku memacu mobil dengan kecepatan di atas 100 km/jam dan akhirnya sebuah truk menghentikan. Beruntung, nyawaku bisa diselamatkan, dan saat itu pula, Tegar datang.

‘Selamat tidur, hum. Mimpi indah’ Tegar menyelimutiku dengan tangannya yang hangat.

Aku memejamkan mata, membayangkan senyum manismu dan membiarkan imajinasiku berkembara mencari sosokmu.

‘Kalya, aku rindu’ bisikku lirih.

bersambung……

***Di manakah Kalya berada? Akankah mereka bisa bersatu? Silahkan simak cerita selanjutnya yang ajan ditulis oleh @wkf2010

One thought on “#3Penguasa: Merindu Hujan (Bagian 2)”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>