Menikmati Desa di Pondok Tingal

Pondok Tingal

Bertepatan dengan hari Kartini, 21 April 2012 kemarin, saya dan teman-teman pengajar di kampus tempat kami ngabekti mendapat mandat untuk ‘mengheningkan cipta’ mengenai pembuatan KBK, yaitu Kurikulum Berbasis Kompetensi. Nah, akhirnya diputuskan tempat ‘pertapaan’ kami adalah di Pondok Tingal, Borobudur Magelang. Penginapan yang lokasinya berada di Jalan Balaputradewa 32, Brojonalan, Borobudur – Magelang – Jawa Tengah – Indonesia, hanya 700 meter dari Candi Borobudur merupakan sebuah penginapan yang mempunyai konsep tradisional Indonesia atau tepatnya Jawa dengan menghadirkan nuansa pedesaan.

Mengapa Jawa? Selain karena bangunan dasar Pondok Tingal berbentuk rumah Joglo, interior ruangan didominasi oleh perabot-perabot khas Jawa seperti patung pengantin loro blonyo, seperangkat gamelan, dan juga kursi kayu yang biasanya banyak ditemukan di rumah-rumah pedesaan. Seluruh dinding bangunan dilapisi oleh gedeg atau anyaman bambu termasuk kamar. Dinding gedeg ini membuat udara di dalam kamar menjadi lebih sejuk, sehingga meskipun dilengkapi oleh pendingin ruangan, namun praktis selama kami menginap, AC tersebut tidak dinyalakan.

Suasana pedesaan dipertegas dengan pelataran yang cukup luas di tengah-tengah bangunan utama dapat, dihiasi dengan beraneka ragam tanaman dan juga kolam-kolam kecil yang dipenuhi dengan bunga teratai, yang kebetulan pada saat itu tengah mekar dengan indahnya. Mengingatkan kembali akan masa kecil di mana biasanya saya sering bermain doktri di halaman rumah eyang dulu.

Uniknya lagi, Pondok Tingal dilengkapi dengan museum seni yang berada di dalam lingkungan penginapan. Sayang sekali, sewaktu tiba di sana, museum tersebut tutup sehingga kami tidak bisa melihat-lihat isi museum.

Museum Seni Pondok Tingal

Sebenarnya, pada hari itu juga ada festival Srawung Seni yang diadakan sekitar 100 meter dari Pondok Tingal. Srawung Seni merupakan pesta seni dalam rangka menyambut Waisak 6 Mei 2012 yang dihadiri dari berbagai kalangan seniman, budayawan, rohaniawan secara nasional bahkan internasional. Srawung Seni diadakan mulai tanggal 20 – 29 April 2012. Namun sekali lagi sayangya kami tidak sempat melihat-lihat perhelatan tersebut karena keterbatasan waktu yang kami miliki.

Tidak bisa melihat Srawung Seni bukan berarti tidak bisa bersenang-senang. Sore itu kami mencoba-coba mencuri waktu untuk sedikit bergembira ria dengan menyewa sepeda tua yang kebetulan tempat persewaannya berada tepat di sebelah Pondok Tingal. Hanya dengan Rp. 15,000,- saja kami bisa menyewa satu buah sepeda, sehari semalam alias 24 jam. Murah ya? Pemilik rental sepeda bernama mas Heri. Sebelum membuka rental sepeda tua, mas Heri adalah seorang kolektor. Total koleksi sepeda tua yang dia miliki adalah seribu enam ratus sepeda!

Rental Sepeda Tua

Menjelang malam, suasana di Pondok Tingal berubah menjadi romantis dengan lampu-lampu tradisional yang menyala di sekeliling penginapan. Bunyi musik tradisional yang samar terdengar dari perhelatan Srawung Seni ditingkahi dengan nyanyian jangkrik. Andaikata tujuannya berlibur, mungkin saya akan duduk di teras kamar sembari melayangkan kenangan tentang kehidupan masa lalu.

Pagi harinya, saya dan beberapa teman memilih untuk bangun pagi dan berburu pemandangan. Melihat embun yang masih tertinggal di kelopak-kelopak bunga adalah pemandangan langka yang tidak bisa kami dapatkan di Semarang, sambil sesekali melayangkan mata pada ibu-ibu yang bergegas ke pasar yang terletak tidak jauh dengan membawa gendongan berisikan sayur-mayur. Sungguh kehidupan desa yang damai.

Flower Power

Tidak salah jika Pondok Tingal ini mempunyai tagline ‘The place that brings you the experience of Indonesian tradisional life’, karena senyatanya itulah yang saya rasakan ketika bermalam di sini. Dengan harga kamar yang terjangkau mulai dari Rp. 145.000,- untuk Standart Room, Pondok Tingal juga menyediakan dormitory bagi para bagpacker dengan harga yang sangat terjangkau, Rp. 25.000,-.  Apabila ingin lebih leluasa, maka pilihlah Banyumasan Room, seperti yang kami gunakan Sabtu kemarin dengan harga Rp. 250.000,-, mempunyai ruang tamu sendiri yang cukup luas. Masing-masing kamar bisa ditempati 2 – 3 orang.

Jangan kuatir soal makanan, jika ingin variasi makanan, 100 meter dari Pondok Tingal terdapat Kedai Rempah yang menyajikan masakan khas Indonesia dengan bumbu rempah. Pilihan menunya beraneka ragam, saya yang tidak mengkonsumsi daging pun bisa menikmat sajian tongseng jamur yang super lezat dengan harga terjangkau. Atau kalau ingin berpetualang rasa, tujulah pasar tradisional. Beraneka jajanan pasar seperti getuk, lanting, dan menu sarapan laiknya gudangan dengan bacem tempe akan bisa mudah didapatkan.

Walaupun hanya dua hari satu malam, namun menikmati suasana desa di Pondok Tingal adalah sebuah liburan yang cukup berkualitas dari hingar bingar rutinitas kesibukan. Ya, meski tidak bisa dibilang liburan karena sembari bekerja, setidaknya cukup membasuh keletihan pikir. Suatu saat mungkin saya akan kembali lagi ke Pondok Tingal, kali ini untuk benar-benar berlibur. Sama siapa? Rahasia. Hahahaha

Pondok Tingal

{ Leave a Reply ? }

  1. didut

    hmmm tempatnya menggoda nih buat berasyik masyuk #eh

  2. e-no si @nagacentil

    Jadi, meeting tahunan tim EDGY di Pondok Tingal? Okesip!

  3. Goiq

    waaahh.. review yang menarik… tempatnya menyenangkan yaah

  4. mbandah

    itu beneran bertapa disana mbak? :D

  5. manuhoro

    menggantikan kata bertapa, lebih tepat jika di tempat itu kita bisa beriang rasa–namun baiknya dengan para kekasih, jangan dengan juragan:)

  6. Tjahjo Hudojo

    Saya mempunyai rencana awal Juli ke Kota Magelang berlibur dengan anak & cucu. Bisakah saya memperoleh tarif menginap yang ekonomis (= tidak perlu mewah), karena hanya untuk beristirahat dalam rangka mengunjungi Borobudur

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>