Sensasi Menonton The Raid

Biasanya saya tidak suka menonton film yang masih baru-baru ditayangkan. Alasannya adalah selain males ngantri, juga karena tidak ingin larut dalam euforia. Karena film baru biasanya banyak dibicarakan orang yang secara tidak langsung akan ada berbagai pendapat mengenai film tersebut yang mungkin akan mempengaruhi sudut pandang saya dalam melihat film itu nantinya.

Tapi beberapa hari lalu ketika ada tawaran nonton bareng the Raid, saya tidak bisa menolaknya. Lha kapan lagi bisa nonton tanpa perlu antri beli tiket? Datang, absen, dan tiket sudah ada di tangan. Ya begitu saja. Jadilah tanggal 28 Maret 2012, saya bareng beberapa anak Loenpia menonton the Raid di Paragon XX1. Film yang konon diputar secara serentak di Amerika itu.

Terlambat sekitar 5 menit, saya tidak menyaksikan adegan awal dari film the Raid. Nah di sinilah sensasi tersebut di mulai. Dari awal saya sudah diberitahu bahwa the Raid akan banyak adegan laga dan darah, tapi saya tidak menyangka bahwa metode pengambilan gambar sepanjang film dilakukan secara close up. Adegan tebas leher, tembak kepala diperlihatkan secara ekstrim. Di tambah dengan sound effect yang cukup ‘berisik’ dari awal adegan sampai akhir.

Sepanjang film itu pulalah saya merasakan ketegangan. Meski menyukai film laga tetapi menonton the Raid ini cukup bikin saya stress. Bagaimana tidak? Hampir tidak ada jeda untuk setiap adegan laga dari awal sampai akhir. Praktis sepanjang film saya menontonnya dari balik jaket. Ngeri. Sensasi yang saya rasakan melebihi ketika menonton film horor sekalipun.

Yang saya sukai dari film ini adalah teknik bela dirinya. Jelas sekali berbeda dari teknik bela diri yang biasa dipraktekkan oleh Jet Lee atau Jean Claude van Damme, lebih banyak menggunakan teknik bela diri asli Indonesia, Pencak Silat. Nilai tambah lainnya adalah karena sang pemeran utama Iko Uwais merupakan atlet Pencak Silat sehingga terlihat lebih natural untuk setiap adegan perkelahiannya.

Secara keseluruhan The Raid saya kategorikan sebagai film yang lumayan bagus. Di luar dialog dalam film yang cenderung kaku dan tidak ada imporvisasi. Satu yang menjadi perhatian saya adalah akting dari Ray Sahetapy, juara! Satu-satunya pemain watak yang aktingnya paling menonjol dalam the Raid dan membuat film ini terkesan tidak datar.

Jika diberi nilai antara 1-5, maka saya memberikan 4,5 untuk the Raid dengan dua jempol.

18 thoughts on “Sensasi Menonton The Raid”

  1. majalah tempo beberapa bulan lalu, menobatkan ray sahetapy sbg peran pembantu terbaik di film ini. dan di majalah tersebut, full spoiler >,<
    karena itu aku mengurungkan untuk nonton, udah kebayang spt apa sadisnya.

    btw, aku penasaran ama film lovely man-nya donny damara.

  2. tapi ada satu yg menggelitik tentang femonema film indonesia.
    kenapa utk film spt Pintu Terlarang dan Ronggeng Dukuh Paruk tidak se-euforia The Raid ini?
    dari situ apa bisa diambil asumsi, penonton indonesia tidak menyukai film drama, lebih suka film2 yg bikin adrenalin mengalir deras. pun kenapa film horror ecek2 laku keras.

    1. kalo boleh mengutip kata temen saya, ide ceritanya kurang ‘seksi’. entah apa definisi kurang ‘seksi’. sama ketika dia menggambarkan mengapa kasus prita lebih menonjol drpada kasus nenek yg mencuri coklat dan dihukum di purwokerto. mngapa bnyk yg menolong prita dan tidak si nenek. analoginya sprti itu meth…ntar definisi ‘seksi’ nya aku tnyakan lbh lanjut :D

  3. Persis sama alasan Geddoe, aku dan beberapa teman lain, yang intinya sama seperti film biru: cerita dan perwatakan tak penting, karena yang dijual kekerasan dan/atau kepornoan. Sepanjang penonton menikmati salah satu atau kedua hal tersebut, kualitas cerita bisa dipinggirkan. Hehe. Seorang teks lain lebih sadis pendapatnya sehabis nonton The Raid ini: “Segitu doang? Udah? Itu saja? Bah! Sama saja kayak nonton bokep, “ah-oh-ah-yess-oh-no” asal “tegang” sudah mantap” :))

    Sadis kali memang, tapi ya terasa benar juga sih. Meski tak salah juga. Film lah namanya, kreasi seni, suka nonton tak suka tinggalkan atau kritikkan (masa mesti dipuji melulu, film sehebat The Dark Knight juga tak luput kritikan).

    Ya bolehlah film ini dari segi action. Harapannya sih (wishful thinking nih ceritanya) action di film ini dan kekayaan dialog/cerita di Merantau akan berkolaborasi nanti di sekuel Berandal :D

    1. eh sebenarnya film itu euforia atau tidak, mungkin juga karena sounding the Raid ini lebih kenceng di banding film2 ronggeng dukuh paruk…plus embel2 film ini diputer di negara paman Sam

      1. Sepertinya sih begitu, apalagi film ini sudah gencar disebarkan isunya sejak tahun lalu, jadi ya wajar jugalah antusiasme masyarakat cukup tinggi (meski nggak tahan juga untuk mencengir melihat orang tua bawa anak-anak nonton film ini).

        Soal perbandingan dengan film “serius” seperti Ronggeng Dukuh Paruk, semalam pas ngopi sama teman ada pendapat “lucu” lainnya. Dengan berpegang pada alasan yang pro film ini bahwa film ini “tak perlu lah dinikmati tanpa banyak mikir” kata beliau “Memang mungkin level kita baru sampai menikmati sinetron saja, nggak yang nonton di tivi, nggak yang nonton di bioskop, beda cuma apa yang ditonton saja. Kalau alasannya nggak usah mikir-mikir ya sami mawon itu dengan penggemar sinetron… Walau kali aja yang nonton The Raid akan bersikukuh tak suka sinetron. Beda-beda tipis lah. Hehehe.

        Argumennya kocak walau belum tentu benar, tapi nyentil juga lah itu :lol:

        *jadi pengen nonton Putri Yang Ketukar Guling Season Kemarau semalam karena di-kick begitu*

        1. aku belum nonton sih Ronggeng Dukuh Paruk, mungkin krn di pemikiranku sudah tertanam, bahwa kisah yg difilmkan dr buku hasilnya hampir tidak maksimal. dan tidak ingin merusak imajinasi dr hasil membaca buku.

          tapi memang kebanyakan penonton masih menonton film sebagai hiburan. soal selera dan kelas, ga smua orang sama :D

    1. Ah… sayang sekali… :-”

      *hasud* :lol:

      Ayo, Om. Nonton. Kalau bukan untuk dipuji ya buat dicaci jadi perbandingan ya minimal buat isi-isi postingan. :mrgreen:

  4. Yang menjadi perhatian gue, knapa film ini bisa tembus amerika. dan Mike Shinoda pentolan Linkin Park mau mengisi music scorenya ( kayaknya di bioskop Indonesia kita tidak akan mendengarkan score musiknya) itu saja.. kalo ada film indonesia yang lain bisa melakukanya tolong beri tahu gue. kalo soal cerita dan temen2nya apalah segala macem gue kurang peduli. Karena gue ga ngerti cara menilai film lebih mendalam. Yg ada dlm hati kecil gue cm berpikir. Akhirnya ada film yang ditonton orang luar.. Seperti biasa kita lakukan menonton film luar :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>