Cerita Rumah

Nekat! Iya, apa ga nekat namanya kalau perempuan, lajang, belum genap dua tahun menjadi dosen tetap sebuah universitas dan tiba-tiba saja memutuskan untuk membeli rumah. Rasanya kok awang-awangen, kalau kata orang jawa. Kenapa ga nunggu nanti pas sudah punya suami, jadi kan rumah bisa dibayar berdua, lebih ringan, dll, komentar beberapa teman.

Awalnya saya pun berpikir demikian. Kenapa keinginan membeli rumah itu muncul baru sekarang, kenapa tidak di saat saya masih bekerja di sebuah PMA Jepang, di mana uang tidak menjadi masalah? Jawabannya satu, prioritas kebutuhan. Kebutuhan saya sekarang adalah mempunyai hunian yang nyaman untuk ditinggali.  Bukan lagi persoalan gadget mutakhir apa yang harus dimiliki ataupun berapa banyak tas dan sepatu bermerk yang ingin saya punya. Prioritas saya sudah bergeser.

Selain masalah prioritas, harga rumah dan tanah itu cenderung meningkat tiap tahunnya, maka kemudian bukan tanpa pertimbangan jika akhirnya saya memutuskan untuk dapat mewujudkan keinginan membeli rumah di tahun ini juga. Setelah melakukan survey dan perburuan tiada henti setiap akhir pekan, bahkan mencuri waktu di sela-sela jam mengajar, rajin mendatangi pameran perumahan di mal manapun. Pokoknya tiap akhir pekan kerjaan saya itu exist di mana pameran rumah itu diadakan. Niat! Hahahahahaha

Mencari rumah di Semarang mungkin sama sulitnya dengan mencari perumahan di Ibukota. Sebagai konsumen, tentunya saya menginginkan rumah dengan harga nyaman di kantong, nyaman lingkungannya, dan juga strategis. Lha wong rumah ini nantinya mau sya tempatin tentunya faktor ‘nyaman’ itu penting. Tetapi rumah yang nyaman lingkungan dan strategis ternyata masih di luar jangkauan kantong saya yang berprofesi sebagai dosen ini. Bahkan beberapa kompleks perumahan mematok harga miliaran rupiah. Saya jelas harus tahu diri dong.

Dengan berbagai pertimbangan di atas, akhirnya saya memutuskan untuk mencari rumah di pinggiran kota Semarang, toh perluasan kota pada akhirnya akan mencapai daerah pinggiran juga. Faktor udara bersih menjadi pertimbangan lain. Namun bagaimanapun sebelum memutuskan untuk membeli, saya juga perlu untuk melihat dengan teliti apakah lokasi yang saya pilih aman, kualitas bangunannya, kondisi lingkungan, seberapa jauh jaraknya dengan tempat kerja, bagaimana akses jalan dan transportasi umumnya, dll.  Standart sih tapi juga penting karena jangan sampai kita seperti membeli kucing dalam karung.  Mentang-mentang harga murah lantas kualitasnya juga ikutan murah. Saya bukan penganut ada barang ada rupa, menurut saya barang bagus tidak melulu dibeli dengan harga yang mahal. Jika kita pintar menyiasati maka kita bisa mendapatkan kualitas bagus dengan harga yang terjangkau. Apalagi yang namanya perumahan, masing-masing ada kelebihan dan kekurangannya.

Dan….setelah melakukan kesepakatan dengan pihak pengembang perumahan dan bank, sekarang saya tinggal menunggu saja ketok palu persetujuan untuk sebuah rumah minimalis bertipe 40 di salah satu cluster di pinggiran kota.  Mudah-mudahan tidak ada aral melintang ya. Doakan saya :)

****

Oiya ini ada beberapa tips jika anda melakukan pembelian rumah di pinggiran kota.

  1. Lingkungan perumahan harus nyaman dan aman untuk ditinggali
  2. Akses jalan bagus. Meskipun berlokasi di pinggiran kota, pastikan bahwa setidaknya ada dua akses jalan yang berbeda untuk sampai di perumahan anda. Jika satu jalan ditutup, maka masih ada alternatif jalan lain
  3. Ketersediaan transportasi umum. Minimal ada Damri ataupun angkutan umum, sehingga ketika suatu hari kendaraan anda mogok, maka aktivitas anda tidak terganggu
  4. Utamakan jarak rumah lebih dekat ke tempat kerja anda daripada ke pusat kota, karena toh anda ga mungkin tiap hari ke pusat kota untuk pergi ke mall ataupun cafe.
  5. Cari tahu fasilitas-fasilitas umum terdekat seperti POM Bensin, Rumah Sakit, Kantos Polisi, dan Pasar.

Selain itu ada hal-hal lain yang perlu diketahui  apabila anda melakukan pembelian rumah dengan cara KPR adalah:

  1. Tanyakan sejelas-jelasnya mengenai persyaratan apa yang harus dipenuhi, berapa uang mukanya, berapa simulasi cicilannya, dan apa saja yang akan didapatkan pada pihak pengembang, jadi minimal anda sudah tahu gambarannya.
  2. Cari tahu bank mana saja yang menjadi rekanan KPR pengembang tersebut sehingga anda bisa membandingkan bunga di masing-masing bank, dan memilih bank dengan bunga terendah atau bahkan flat.
  3.  Pastikan anda tidak sedang bermasalah dengan hutang bank karena hal ini akan mengganggu proses BI checking dari bank
  4. Siapkan uang extra untuk biaya-biaya lain selain seperti AJB, biaya balik nama, dll. Untuk berapa kisaran biayanya, tanyakanlah pada petugas bank pada saat anda diwawancara nanti.
  5. Happy hunting

Labirin Rasa: Sebuah Petualangan Hati

Cinta itu pada dasarnya sederhana, namun seringkali diperumit oleh manusianya.

Begitulah yang saya tangkap setelah kurang lebih 5 jam membaca novel  perdana @ceritaeka berjudul Labirin Rasa. Sebuah cerita tentang petualangan hati seorang perempuan bernama Kayla. Ya Labirin Rasa adalah sebuah petualangan hati menemukan sang Pangeran Fajar, menemukan cinta.

Labirin Rasa @ceritaeka
Labirin Rasa @ceritaeka

Selama 5 jam itu pulalah, saya dibawa berkelana, mengembara menelusur perjalanan hati Kayla dan sesekali bernostalgia, karena apa yang dialami Kayla, mungkin pernah pula dialami oleh kebanyakan perempuan, hanya dalam cerita yang berbeda.  Kayla adalah dirinya sendiri, yang punya prinsip we gotta do what we like., agar tak perlu menyesal dua puluh tahun kemudian ketika menengok ke belakang karena tak melakukan apa kata hati.  Jika ia jatuh cinta, seisi dunia harus tahu. Segamblang itulah sosok Kayla digambarkan. Ketika Kayla tertawa, maka energi bahagia tersebut dapat terserap oleh pembaca, ketika ia bersedih karena hatinya selalu patah oleh Ruben, entah mengapa hatipun turut mencelos. Seperti dibawa kembali ke masa lalu, ketika cerita cinta pun tak berjalan mulus.

Walaupun inti cerita novel ini berpusat pada hati Kayla, namun ada masa di mana di tengah-tengah petualangan tersebut, Kayla merasa galau akan masa depannya. Tentang IPK, orang tua, dan pekerjaan yang tak kunjung datang. Kegalauan tersebut digambarkan secara apik melalui petualangan-petualangan lain seperti perjumpaannya dengan Dani, David, bahkan Cynthia seorang lesbian yang memporak-porandakan harga diri Kayla. Meski tidak dipungkiri bahwa porsi alasan paling besar setiap perjalanannya adalah untuk melupakan Ruben, cinta pertama Kayla.

Sama seperti salah satu episode dalam novel ini yang diberi judul Anti-mainstream, penggambaran sosok Kayla memang berbeda dengan penggambaran perempuan pada umumnya dalam sebuah novel.  Sehingga hal ini membawa penyegaran tersendiri akan sebuah novel percintaan, yang umumnya dipenuhi oleh tokoh perempuan yang cenderung melankolis. Eka cukup cerdas mengaduk-aduk hati pembaca, alur yang naik turun, kekuatan cerita dan kalimat-kalimat lugas namun apik dalam setiap percakapan, baik antara Kayla dengan Yangti, Kayla dengan Ruben, maupun percakapan Kayla dengan dirinya sendiri. Seperti percakapan meyakinkan dirinya sendiri bahwa Ruben adalah Pangeran Fajar yang dikirimkan Yangkung untuk menjadi pelindung. Kegelisahan hati Kayla, dituliskan dalam kutipan-kutipan manis pada awal setiap chapter.

Jika dilihat sekilas, sosok Kayla merupakan penggambaran diri penulis itu sendiri, mengingat begitu banyak kesamaan yang ditulis dari sifat ataupun latar belakang Kayla dan Eka sebagai gadis Batak. Namun apabila dicermati lebih lanjut, sosok penulis justu hadir  melalui cerita indah tentang berbagai tempat yang menjadi lokasi ‘pelarian” Kayla dalam menemukan sang Pangeran Fajar. Kecintaan penulis terhadap travelling tergambar jelas pada pemilihan lokasi seperti Bali, Lombok, Makasar, Danau Toba, dan Selandia Baru.   Selain itu, dalam episode di mana Kayla merasakan dunianya runtuh setelah penolakan yang datang dari Patar sang suami,  saya juga bisa merasakan emosi penulis secara total. Saya seperti melihat bagaimana Eka jika ia sedang patah hati.

Diluar masalah teknis yang saya temukan seperti kekurangtelitian dalam penyuntingan naskah sehingga masih banyak terjadi kesalahan ketik, Labirin Rasa ini memberikan warna baru bagi novel romansa di tanah air. Bahasa yang digunakan sederhana dan lugas. Petikan-petikan kalimatnya indah namun tidak rumit. Sesekali saya merasa seperti ditampar akan pernyataan-pernyataan yang terdapat dalam novel ini, tentang keberanian mengambil keputusan dan berjuang hingga titik darah penghabisan. Dua hal yang ironisnya selalu ada dalam  hidup yang dijalankan sehari-hari. Cerita yang disajikan dalam novel ini cukup ringan namun menggigit, dan membawa kita tersesat dalam permainan rasa, selayaknya labirin. Rasa yang seharusnya tak perlu diperumit ataupun dipertanyakan, ia hanya perlu dinikmati. Meskipun nanti mungkin tak tentu arah. Sebagaimana yang dituliskan pada awal kisah ini,

Tak tentu arah bukan berarti tersesat. Mungkin hanya belum menemuan jalan yang tepat untuk ditapaki. [Eka Situmorang-Sir]

Smartfren Anti Lelet
Smartfren Anti Lelet

*tulisan ini dibuat untuk mengikuti lomba review #LabirinRasa @ceritaeka di @wahyumedia

Berburu Air Terjun

Curug Benowo
Curug Benowo

Minggu kemarin, untuk pertama kalinya saya ikut piknik yang diadakan oleh teman. Dalam pikiran saya, piknik itu pergi ke sebuah tempat yang menyenangkan, menggelar tikar, dan menikmati makanan dari keranjang piknik yang dibawa. Maka pada pukul 13.00 WIB berangkatlah kami bersepuluh menuju lokasi piknik, yaitu air terjun Kalisidi.

Continue reading

Perkara Diet dan Lari

Urusan diet tidak pernah menjadi persoalan yang mudah buat saya. Bisa dibilang, saya sudah menjajal hampir semua jenis diet yang ada, katakanlah diet carbo, diet gula, diet golongan darah, vegetarian, dan yang terakhir adalah food combining. Berhasilkah? Ya begitulah. Pada dasarnya saya ini sangat mencintai makanan, sehingga kegiatan makan tidak pernah sekedar menjadi persoalan memenuhi kebutuhan perut atau memuaskan rasa lapar. Ada rasa bahagia yang terselip di dalamnya.

Namun mengingat umur yang tidak lagi muda, kadar gula, kolesterol, asam urat dan lain-lain yang perlu diperhatikan keselamatannya, maka saya tidak bisa terus-terusan makan tanpa berpikir efek sampingnya. Seorang teman menyarankan untuk mengimbanginya dengan berolahraga, masalahnya adalah saya tidak suka berkeringat. Maka olahraga satu-satunya saya bisa lakukan adalah berenang. Masalah lain yang muncul adalah waktu. Time is a luxurious thing. Sehingga berenang kemudian menjadi sebuah wacana belaka tanpa pernah direalisasikan.

Sampai akhirnya saya mengikuti Hash Run. Hash atau sering disebut hashing adalah sebuah kegiatan lari non competitive. Hash Run ini merupakan sebuah organisasi internasional yang awalnya dibentuk di Kuala Lumpur, namun sekarang sudah tersebar di beberapa negara, termasuk di Semarang.

Naik Naik Ke Puncak Gunung
Naik Naik Ke Puncak Gunung

Continue reading